Makan di bulan puasa

on

Sudah lama ga nulis perbandingan antara hidup dikosan dan dirumah. Berikut perbandingan makan di kos maupun rumah.

Kos:

Makan dikos adalah hal yang paling simpel. Anda lapar, silahkan keluar cari makan. Entah itu untuk berbuka atau sahur. Kalo males keluar, ya buat mie instan. Kalo keabisan mie, ya puasa makan setelah selesai puasa. Sungguh simpel.

Rumah:

Kalau dirumah jadinya beda. Beberapa hari sekali harus masak dan entah bagaimana mulanya, saya jadi tukang masak utama. Ini yang sebenernya susah. Saya sering eksperimen tentang masakan dan eksperimen tentang masakan. Kalo hasilnya enak sih syukur. Kalo ga bisa berabe.

Contoh paling lucu adalah saat SMP. Saat itu pertama kalinya masak saos spageti sendiri. Karena puasa, maka tentu saja ga bisa dicipi masakannya seperti apa. Hasilnya sekeluarga mencret dua hari berturut turut. Sejak saat itu bapak ga mau makan spageti kalo saosnya buat sendiri. hahaha.

Overall sebenernya semua ada nilai plus dan minusnya. Tapi yang membuat nilai rumah sangat tinggi adalah ke ramaiannya. Dirumah alhamdulillah masih ada bapak, ibu, adek saat berbuka dan sahur. Sedangkan di kos saat ini sepi, jika pun ada temen untuk kumpul, pastilah di waktu sore dan tidak setiap hari. Selain itu belum ada juga yang bisa bikin betah disana. Jadi bisa disimpulkan bahwa bakal mati kesepian kalo di kos. hahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s