Mengeluh

on

Semua orang pasti pernah merasakan kehilangan. Ada yang kehilangan barang ada pula yang kehilangan orang yang dicintai Contohnya paling gampang adalah hari ini, dimana sepasang sepatu dan dua pasang sandal ku hilang di kosan. Aku tidur jam 1 malam dimana aku masih melihat alas kaki itu tersusun rapi depan kosan. Tetapi ketika subuh menjelang, disaat aku akan mengambil air wudhu, aku tersadar bahwa depan pintuku sudah bersih dari alas kaki kecuali sandal jepit s*all*w.

Disaat kehilangan ini, kebanyakan orang mengeluh kepada Tuhan atas apa yang terjadi pada kita. Periode mengeluhnya pun berbeda beda. Ada yang instant ada pula yang seperti sinetron di Ind*s*ar (panjang dan ga selesai selesai). Tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya bukanlah sesuatu yang patut ketika kita mengeluh di saat “sesuatu” itu hilang. Coba kita ingat kembali, berapa kali kita pernah mensyukuri “sesuatu” tersebut. Sebagai contoh dalam kasusku, berapa kali aku bersyukur mendapatkan sepatu tersebut, berapa kali aku bersyukur ketika sepatu itu membantuku melangkahkan kaki ke kampus, berapa kali aku bersyukur sepatu itu melindungi dari panas nya aspal siang hari dan pecahan kaca di sekitar jalan. Aku pribadi bahkan mungkin bisa menghitung dengan jari di sebelah tangan saja kapan aku bersyukur tentang “sesuatu” tersebut.

Contoh lain adalah kesehatan. Ketika seseorang sehat, banyak yang tidak menggunakan kesehatannya dengan benar (missal mabuk). Coba bayangkan ketika dia sakit karna ulahnya, seberapa sering dia mengeluh kepada Tuhan tentang sakitnya itu. Pantaskah? Padahal untuk bersyukur dalam hal ini cukup mudah, yaitu dengan menjaganya. Mari kita renungkan, berapa kali bersyukur saat kita sehat, saat kita masih bisa bernafas menggunakan paru paru kita sendiri, berapa kali kita bersyukur karna panca indera kita, berapa kali kita bersyukur masih bisa berucap, dan berapakali dalam sejam kita mengeluh saat sakit.

Dari periode tersebut, coba kita pikirkan baik-baik apakah kita patut ketika kehilangan tersebut menjadi momok keluhan yang berlebih dalam hidup kita. Dimana saat satu cobaan bernama kehilangan membuat kita mengeluh sepanjang hari tetapi disaat Tuhan memberikan benda itu untuk digunakan oleh kita, jangankan bersyukur sepanjang hari, terkadang kita lupa untuk mensyukurinya. Yah intinya jadilah makhluk yang selalu bersyukur atas nikmat Tuhan selalu mengucur kepada kita, baik itu yang dapat kita rasakan maupun tidak.

Semoga menjadi bahan introspeksi diri khusunya bagi penulis 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s